Resensi Film Mencuri Raden Saleh
Resensi Film oleh Asyifa Vania Sefiana (202210415164)
- IDENTITAS FILM
Judul film: Mencuri Raden Saleh
Penulis naskah: Angga Dwimas Sasongko
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Durasi film: 154 menit
Kategori film: Action, Crime, Drama
Pemain film: Aghniny Haque, Rachel Amanda, Angga Yunanda, Iqbal Ramadan, Umay Shahab, dan Ari Irham.
Tahun produksi: Tahun 2022
Perusahaan produksi: Visinema pictures
Film ini terbilang sukses dengan jumlah penonton yang tembus 2 juta penonton sampai saat ini dan berhasil memborong 5 nominasi Festival Film Bandung 2022. Sepanjang film diputar penonton diajak untuk masuk ke dalam alur cerita yang telah dibuat dengan rapih dan diperankan dengan sempurna oleh setiap tokoh. Dimana plot twist demi plot twist tak berkesudahan yang membuat penonton tidak rela beranjak dari tempat duduknya. Kemudian hubungan setiap karakter tokoh digambarkan dengan jelas, mempunyai latar belakang dan motivasi untuk terlibat dalam komplotan pencurian ini. Selain itu, tiap karakter memiliki porsi mereka dengan kisah latar belakang kehidupan mereka yang dijelaskan dengan cukup baik di dalam cerita. Bukan hanya para karakter utama, beberapa pemain lain juga mendapatkan porsinya sendiri, sehingga penonton tidak memiliki interpretasi lain atas satu karakter.
- SINOPSIS
Film Mencuri Raden Saleh mengkisahkan cerita tentang perjalanan sekelompok mahasiswa yang sangat tertarik untuk mencuri lukisan Raden Saleh di Istana Negara. Seorang pemuda tengah duduk di hadapan sebuah lukisan. Ia memberikan beberapa sentuhan terakhir sebelum menyelesaikan lukisannya. Hebatnya, lukisan yang dibuatnya itu berhasil dilelang dengan harga yang sangat fantastis.
Inilah Piko (Iqbaal Ramadhan) seorang mahasiswa yang diam-diam bekerja sambilan sebagai pemalsu lukisan-lukisan legendaris. Setidaknya, sudah ada enam lukisan dari enam maestro yang dipalsukannya. Tapi tidak ada satu pun kolektor yang menyadari hal ini. Tentu saja pekerjaan Piko ini tidak akan berhasil tanpa bantuan sang sahabat yang bernama Ucup (Angga Yunanda). Bersama Ucup, Piko menjual lukisan-lukisan tiruannya ini pada seorang wanita misterius bernama Dini (Atiqah Hasiholan).
Suatu hari, Dini memberikan tantangan baru yang nilainya fantastis. Ia ingin Piko memalsukan lukisan karya Raden Saleh yang bertajuk “Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Pada awalnya, Piko menolak tawaran ini mentah-mentah. Namun uang dua miliar yang ditawarkan untuknya adalah uang yang bisa membawa sang ayah keluar dari jeruji besi.
Harus diakui, kehebatan Piko dalam memalsukan lukisan para maestro memang sangat luar biasa. Ia mengerjakan lukisan milik Raden Saleh dengan sempurna dan nyaris tidak ada cacat. Semua detail, simbol dan emosi yang ada dalam lukisan buatannya benar-benar mirip dengan aslinya. Tapi saat Piko dan Ucup bersiap untuk menukar lukisan ini, tiba-tiba saja Permadi (Tio Pakusadewo) menghampiri mereka.
Pria itu bukan orang sembarangan, Permadi adalah orang paling berkuasa dan merupakan Mantan Presiden Indonesia. Ia memberikan tawaran baru pada Piko dan Ucup, ada uang 17 miliar yang bisa didapatkan kedua anak ini. Namun ada tugas yang harus mereka selesaikan, yaitu menukar lukisan palsu ini dengan lukisan asli yang ada di Istana Presiden. Tentu tawaran ini tidak bisa ditolak oleh mereka, sebab Permadi bukan mengajak mereka berbisnis, tapi memperalat keduanya. Ia menjadikan keselamatan ayah Piko yang ada di penjara sebagai ancaman. Belum lagi kekasih Piko yang bernama Sarah (Aghniny Haque) juga ikut terancam di sini. Bermodalkan uang 500 juta dan rencana penukaran lukisan buatan Permadi, anak-anak ini nekat jadi pencuri.
Memanfaatkan perhelatan pameran nasional, Piko dan Ucup harus bisa menukar lukisan itu dalam momen pemindahan dari istana ke venue pameran. Tapi mereka membutuhkan driver dan mekanik untuk melancarkan rencana. Dari sinilah dua bersaudara Gofar (Umar Shahab) dan Tuktuk (Ari Irham) diajak bergabung oleh Piko. Kedua anak ini memang bukan orang asing, Gofar dan Tuktuk adalah putra dari penyewa bangunannya. Namun ada masalah lain yang harus segera mereka atasi, yaitu mencari seseorang yang licik, cerdik dan memiliki privilege alias kaya raya.
Ucup lantas membawa seorang gadis bernama Fella (Rachel Amanda), anak dari keluarga kaya tapi berjiwa kriminal. Berkat Fella, mereka bisa menyusupkan Tuktuk dan Gofar ke perusahaan ekspedisi yang akan memindahkan lukisan. Mereka mengikuti planning buatan Permadi dengan sangat hati-hati, hingga saat operasi pencurian dimulai, semuanya jadi kacau.
Piko, Ucup, Sarah, Gofar, Tuktuk dan Fella tidak tahu, bahwa ada polisi yang menyamar dan mengikuti truk ekspedisi dari belakang.
Operasi pencurian pun gagal total, bahkan Tuktuk harus mendekam di penjara dan informasi pribadi Ucup juga sudah diketahui polisi. Selama beberapa hari, anak-anak yang selamat bersembunyi. Hingga Piko melihat sendiri, ternyata lukisan yang terpajang di pameran adalah lukisan palsu buatannya.
Pria ini jelas sangat marah, apalagi kini mereka sadar telah dimanfaatkan sebagai bidak oleh Permadi. Tak ingin menyerah begitu saja, Piko mengajak teman-temannya untuk melakukan aksi balas dendam. Piko ingin mencuri lukisan Raden Saleh yang asli dari kediaman Permadi. Apalagi, kini Tuktuk sudah dibebaskan oleh kepolisian karena alibi dan data-datanya tidak ada yang mencurigakan. Kira-kira, bisakah Piko, Ucup, Gofar, Tuktuk, Sarah dan Fella mencuri lukisan Raden Saleh yang asli dari tangan Permadi?
- KELEBIHAN FILM
Alur cerita yang sangat menarik karena banyak sekali hal tak terduga yang terjadi pada film ini. Para pemeran juga menonjolkan skill akting nya yang luar biasa. Sinematografi dari film ini sangatlah apik. Pengambilan gambar yang sangat lihai dan tone yang sesuai dengan tiap scene membuat film ini terasa bukan film Indonesia. Visual yang disajikan sangat memanjakan mata. Audio dari film ini juga sangat ciamik. Audionya sangat memuaskan telinga para penonton apabila menontonnya secara langsung di bioskop. Sinematografi film ini berhasil memainkan ritme jantung para penonton.
- KEKURANGAN FILM
Beberapa kritikus merasa bahwa film ini tidak menonjolkan kemampuan tokoh utama secara efektif, Seperti porsi adegan Rama sebagai anak mantan presiden Permadi yang dirasa kurang. Sehingga sisi kenakalannya tak cukup menonjol. Juga soal tokoh Reza yang membantu Sarah di acara pesta. Tak ada kelanjutan cerita mereka. Penonton langsung diajak fokus ke adegan aksi pencurian. Iklan yang disisipkan di film ini tidak mengganggu alur cerita namun seharusnya masih bisa dikemas lebih natural lagi.
Komentar
Posting Komentar